Hari yang
cerah di musim panas di bulan Mei, di saat aku dan ketiga sahabatku menyusuri pinggiran sungai yang sangat
terkenal di kotaku.
Ketiga
temanku berkoak – koak menceritakan banyak hal, sementara aku terdiam tak
berkutik mendengar ocehan mereka. Andai aku bisa melepaskan semua beban ini aku
sudah melakukannya sekarang.
“ Hei,”
ucap seorang temanku seraya menepuk bahuku.
“ Mmhh,
Apa ? “ jawabku terkejut.
“ Kamu
kenapa ? “ Katanya lagi.
“ Nggak
kenapa – napa kok,” kataku menjawab.
Langkahku
terhenti di saat aku memperhatikan 2 insan sedang bermain – main air di sungai
itu, setelah kuperhatikan ternyata 2 orang itu adalah adikku. Semenjak kecil
aku dan adik – adikku dilarang oleh ibu bermain – main di sungai itu, karena
takut nanti kami diculik di saat lengah bermain – main di sungai itu. Aku
bergegas berlari mendapati kedua adikku itu.
“ Apa
yang kalian lakukan disini ? “ Kataku pada mereka sesaat setelah aku mendapati
mereka.
“ Kakak ?
kenapa kakak ada di sini ? mmh.. mmh…. Kami….. kami cuma main – main aja kok di
sini, “ kata salah seorang adikku gugup.
“ Huh…
cepat keluar, sebelum kulapor pada mama, “ kataku lagi.
“ I… iya
kak, tapi janji ya kak, jangan kasih tahu mama, “ katanya lagi.
“ Iya, “
Jawabku mantap.
Mereka
pun segera pulang ke rumah setelah mengganti pakaian mereka. Aku kembali
mendapati ke 3 temanku yang terus memperhatikan aku dan adik – adikku. Kami
melanjutkan jalan – jalan kami. Sementara ke 3 temanku sibuk dengan ocehan
mereka, aku masih dalam kesuntukanku memikirkan utang – utang keluargaku akan
kontrakan yang kami tinggali.
Setengah
jam kemudian kami duduk – duduk di bangku pinggir sungai, tak lama seorang
adikku datang berlari – lari sambil berteriak – teriak,
“ Kak,
rumah kita kebakaran, ayo cepat pulang,” katanya.
Mendengar
itu, aku panik dan segera berlari menuju rumahku, sesampai di sana api masih
membakar semuanya, akan tetapi rumah kami telah habis semua, tak meninggalkan
apa – apa. Aku berlari menghampiri ibuku yang tengah menangis tak henti –
hentinya. Sementara ayahku berjalan mondar – mandir seperti orang kesetanan.
Aku pun berlari memeluk ibuku yang tengah menangis, dan tak lama kemudian ia
pingsan.
Keesokan
harinya, kami mulai mengais – ngais harta yang mungkin masih selamat di bawah tumpukan
sisa – sisa kebakaran itu. Di bawah arang yang dulunya merupakan kayu yang
kokoh, melindungiku dan keluargaku dari terpaan mentari dan hujan badai. Barang
– barang yang masih terselamatkan kami jual ke tukang loak yang banyak datang
ke tempat itu, setidaknya menabung uang sedikit demi sedikit.
Kini, aku
tak tahu harus berbuat apa, aku tak bisa lagi melanjutkan sekolahku, semua
kemalangan ini datang beruntun. Aku pikir semuanya berhenti sampai disini.
Sampai
Disini ? tidak. Ternyata aku salah, harapan itu selalu ada, sekarang bantuan
berdatangan kepada kami. Pemilik kontrakan bersedia melunaskan utang – utang
kami. Dan kini kami diberi rumah baru di
tempat yang lebih baik, tempat yang memiliki lahan yang cukup luas. Di tempat
itu ayah dan ibuku mengusahakan tanah tersebut. Perlahan – lahan kehidupan kami
mulai pulih dan kini aku sadar bahwa ternyata Tuhan itu sungguh amat baik.
Hanya saja dia punya cara tersendiri untuk menyatakan kebaikannya itu.
By David Simanjuntak
XXII

