Selasa, 30 April 2013

Sampai Disini?


Hari yang cerah di musim panas di bulan Mei, di saat aku dan ketiga sahabatku menyusuri  pinggiran sungai yang sangat terkenal di kotaku.
Ketiga temanku berkoak – koak menceritakan banyak hal, sementara aku terdiam tak berkutik mendengar ocehan mereka. Andai aku bisa melepaskan semua beban ini aku sudah melakukannya sekarang.
“ Hei,” ucap seorang temanku seraya menepuk bahuku.
“ Mmhh, Apa ? “ jawabku terkejut.
“ Kamu kenapa ? “ Katanya lagi.
“ Nggak kenapa – napa kok,” kataku menjawab.
Langkahku terhenti di saat aku memperhatikan 2 insan sedang bermain – main air di sungai itu, setelah kuperhatikan ternyata 2 orang itu adalah adikku. Semenjak kecil aku dan adik – adikku dilarang oleh ibu bermain – main di sungai itu, karena takut nanti kami diculik di saat lengah bermain – main di sungai itu. Aku bergegas berlari mendapati kedua adikku itu.
“ Apa yang kalian lakukan disini ? “ Kataku pada mereka sesaat setelah aku mendapati mereka.
“ Kakak ? kenapa kakak ada di sini ? mmh.. mmh…. Kami….. kami cuma main – main aja kok di sini, “ kata salah seorang adikku gugup.
“ Huh… cepat keluar, sebelum kulapor pada mama, “ kataku lagi.
“ I… iya kak, tapi janji ya kak, jangan kasih tahu mama, “ katanya lagi.
“ Iya, “ Jawabku mantap.
Mereka pun segera pulang ke rumah setelah mengganti pakaian mereka. Aku kembali mendapati ke 3 temanku yang terus memperhatikan aku dan adik – adikku. Kami melanjutkan jalan – jalan kami. Sementara ke 3 temanku sibuk dengan ocehan mereka, aku masih dalam kesuntukanku memikirkan utang – utang keluargaku akan kontrakan yang kami tinggali.
Setengah jam kemudian kami duduk – duduk di bangku pinggir sungai, tak lama seorang adikku datang berlari – lari sambil berteriak – teriak,
“ Kak, rumah kita kebakaran, ayo cepat pulang,” katanya.
Mendengar itu, aku panik dan segera berlari menuju rumahku, sesampai di sana api masih membakar semuanya, akan tetapi rumah kami telah habis semua, tak meninggalkan apa – apa. Aku berlari menghampiri ibuku yang tengah menangis tak henti – hentinya. Sementara ayahku berjalan mondar – mandir seperti orang kesetanan. Aku pun berlari memeluk ibuku yang tengah menangis, dan tak lama kemudian ia pingsan.
Keesokan harinya, kami mulai mengais – ngais harta yang mungkin masih selamat di bawah tumpukan sisa – sisa kebakaran itu. Di bawah arang yang dulunya merupakan kayu yang kokoh, melindungiku dan keluargaku dari terpaan mentari dan hujan badai. Barang – barang yang masih terselamatkan kami jual ke tukang loak yang banyak datang ke tempat itu, setidaknya menabung uang sedikit demi sedikit.
Kini, aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak bisa lagi melanjutkan sekolahku, semua kemalangan ini datang beruntun. Aku pikir semuanya berhenti sampai disini.
Sampai Disini ? tidak. Ternyata aku salah, harapan itu selalu ada, sekarang bantuan berdatangan kepada kami. Pemilik kontrakan bersedia melunaskan utang – utang kami. Dan  kini kami diberi rumah baru di tempat yang lebih baik, tempat yang memiliki lahan yang cukup luas. Di tempat itu ayah dan ibuku mengusahakan tanah tersebut. Perlahan – lahan kehidupan kami mulai pulih dan kini aku sadar bahwa ternyata Tuhan itu sungguh amat baik. Hanya saja dia punya cara tersendiri untuk menyatakan kebaikannya itu.       

By David Simanjuntak
XXII
  

Opini- Seluk Beluk Yahudi


JANGAN SELALU MEN-JUDGE YAHUDI.



                Semua itu kembali ke akar Yahudi. Banyak orang selalu menyalahkan bahwa Yahudi itulah yang menyalibkan Yesus, yang nama-Nya dalam bahasa Ibrani “Yahsua Hamasiakh”. Meski banyak orang yang mengatakan “Yeshua”. Itu memang nama-Nya, tetapi ada juga yang mengatakan “Yahsua”, agar sama dengan nama Bapa YHWH. Sebenarnya yang menyalibkan Yesus itu adalah gambaran dari pemerintah dan pemuka-pemuka agama. Dalam film “Passion of the Christ”, disitu Pilatus mencuci tangan dan mengaku bahwa dia sama sekali tidak memiliki dosa dalam penyaliban itu. Dia itu seperti TIDAK MAU DISALAHKAN, sedangkan dia tahu mana yang pantas disalibkan, karena takut akan jabatannya. Ya, sama saja artinya dia menyetujui.
                Orang zaman sekarang telah dibutakan oleh pemerintahan Roma yang jelas-jelas merekalah yang menahan- nahan pengikut Yahsua untuk beribadah. Tapi, mengapa malah Roma mengakui bahwa dari merekalah ajaran itu? Itulah, mereka MENCUCI TANGANNYA. Mereka tidak mau dianggap salah oleh orang-orang. Itu sebabnya mereka “ikut-ikutan” menjadi percaya kepada Yahsua. Dengan tradisi mereka sendiri, mereka mencampuradukkan peraturan- peraturan Tuhan.
                Seperti halnya dengan Natal yang diperingati manusia setiap 25 Desember. Adakah kita diperintahkan Tuhan untuk merayakan Natal? Tidak ada, kan. Sedangkan kita tidak pernah melakukan hari- hari Raya yang telah diperintahkan Tuhan kepada kita, seperti Hari Raya Paskah, Hari Raya Roti tidak beragi, Hari Raya Peniupan Sangkakala, Hari Raya Buah Sulung, Hari Raya Pentakosta atau Hari Raya Tujuh Minggu, Hari Raya Pondok Daun, dan Hari Raya Hanukkah. Kenapa ditambah- tambahkan? Kenapa juga dikurang-kurangi? Yang diperintahkan, tidak dilakukan. Yang tidak diperintahkan kita lakkan. Mari kita membuka mata kita.
                Seperti halnya 25 Desember. Mungkin banyak orang berkata, “Itu hanya memperingati saja, kita tidak tahu pasti.” Memang benar, manusia tidak tahu pasti, kapan Mesias lahir ke dunia ini. 25 Desember itu adalah hari peringatan untuk dewa matahari bersinar paling terang. Maka Roma memerintahkan dan menetapkan hari itulah diperingatinya hari kelahiran Yahsua. Apa Mesias kita bisa disamakan dengan dewa matahari? Bukalah mata Anda dan pandanglah kebenaran.
                Jika kita perhatikan, mereka sangat teratur hidupnya. Dan standar kehidupan mereka itu tinggi. Misalnya dilarang berzinah. Maka yang berzinah itu akan dirajam batu sampai mati. (Bdk. Imamat 20: 10).  Jika dibandingkan dengan bangsa kafir, yang digambarkan digambarkan di Alkitab, berzinah pada orang orang kafir itu hal biasa. Makanan mereka pun sangat dijaga. Kenapa kita dilarang Tuhan kita memakan daging babi? (bdk. Imamat 11: 1- 47) Pasti ada tujuannya. Itu untuk kesehatan kita. Di dalam babi itu sangat banyak jenis penyakit. Dan sewaktu Yahsua mengusir roh jahat, roh setan itu kan dipindahkan ke dalam tubuh babi tersebut. Babinya memang jatuh ke dalam jurang, tetapi roh  nya tetap ada.
                “Hukum Taurat tidak menyelamatkan.” Memang benar. Yahsua lah yang menyelamatkan. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datan kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kata Yahsua. (bdk  Yohanes 14: 6). Dan jika kita telah hidup di dalam Tuhan, pasti kita itu melakukan Taurat Tuhan itu. Taurat itu baik. Kita sudah meninggalkan dosa, tidak mencuri, tidak berzinah, dan banyak lagi.
                Yahudi. Mereka susah digoyahkan oleh angin- angin pengajaran yang semakin banyak menyesatkan. Mereka tetap teguh dengan apa yang mereka sembah. Yang disembah nenek moyang mereka, Abraham, Ishak, Yakub. Karena mereka percaya dengan apa yang tidak merka lihat. Mereka percayakepada Tuhan nenek moyang mereka, yang disembah turun- remurun. Karena telah nyata kuasa Tuhan kepada bangsa Israel. 

by Indah Simanungkalit
XXI Gen

Imitasi


 


Orang-orang diam
                   khusyuk…
dengan wajah wajah tenang dan damai mereka berdoa.terkadang berdiri kemudian duduk lagi.terdengar suara lonceng  menggema bersama bau kemenyaan yang menyengat.mazmur mazmur dilantunkan dengan indah.seorang gadis duduk dibangku agak dibelakang,berbeda dengan yang lain wajahnya memancarkan kegelisahan.dia juga duduk dengan gelisah,beberapa kali dia terlihat membuka tas coklat kecil miliknya, namun segera menutupnya kembali tanpa alasan yang jelas.
          Gadis itu berdiri ditepi jalan raya,melihat kekiri kanan sebelum menyeberang jalan. Diseberang dia berhenti didekat pohon besar yang rindang, matahari yang terik tampaknya menambah deritanya karena wajahnya tampak cemberut dan gerak geriknya sangat gelisah.dibawah pohon itu dia berdiri cukup lama,sepertinya dia menunggu seseorang tapi entah mengapa sampai beberapa jam kemudian tak ada yang muncul. Lalu dia pergi dari tempat itu, kali ini wajahnya tidak lagi gelisah malah penuh amarah.
          setiap orang tak ingin dikecewakan,tapi itu akan menjadi lebih berat bagi seorang gadis manja yang biasa mendapat semua yang diinginkannya.sungguh beruntung terlahir dikeluarga kaya dengan orang tua yang penuh kasih.ditambah lagi dianugrahi paras  yang cantik dengan kecerdasan yang tinggi,tentunya orang luar akan iri melihat hidupnya,semoga gadis itu menyadari keberuntungan itu.
          Seperti yang seharusnya terjadi dalam hidupnya, ia akan menghabiskan waktunya dengan satu-satunya orang yang dicintainya, tapi orang itu tidak dating dan tidak akan pernah dating karena tidak seperti yang seharusnya terjadi dalam hidupnya, lelaki itu memilih orang lain. Hanya seorang gadis biasa yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan dia.memang klasik ,cinta itu tak memandang penampilan atau harta kenyataanya itu adalah pukulan yang berat bagi gadis itu. Dia memandang wajahnya di cermin,untuk pertama kali dalam hidupnya dia membenci penampilannya.dia tetap cantik dan mempesona  namun seperti ada kabut kepalsuan yang menyelimuti dirinya,atau kepalsuan itu adalh dirinya sendiri?
          ………………………………………………………………………..
          Sirene polisi  terdengar nyaring, bangunan besar itu diliputi kepedihan. Isak tangis sang ibu mengantarkan kepergian mayat putri tercintanya.sebuah kematian yang tidak perlu. Kematian yang bodoh oleh seorang gadis yang dimabuk cinta yang biasanya memiliki segalanya.hingga tiba saat dia tak bias memiliki apa yang diinginkannya maka dia memilih memutuskan nadinya.mungkin dia mati membawa penyesalannya keliang kubur,seandainya saja dia tak memilih operasi plastic setahun lalu,maka lelaki yang dicintainya tentu akan memilihnya,lelaki  dengan pikiran lurus yang benci tubuh imitasi.

By Ellis Panggabean 
XXII

Ompung

Aku  kembali dari Medan Senin siang, tepatnya pada pukul satu. Kata teman-teman sih, aku terlalu cepat pulang ke Asrama. Aku pikir juga demikian. Rencananya aku akan keliling-keliling dulu di Balige. Tapi tidak semangat ! Akhirnya aku langsung pulang.
Ada beberapa fakta yang aku baru tahu kebenarannya setelah menghadiri acara pemakaman ompungku. Yang pertama, ompungku meninggal pada Kamis malam, bukan Jumat pagi. Karena mamak baru mengabariku Jumat siang, kupikir bahwa ompung meninggal pada Jumat pagi. Kedua, ompung itu umurnya 71 tahun. Dan yang terakhir, namanya itu sebenarnya Hadarian, bukan Hardi, Hadrian, Hadirian, juga lainnya.
Sedih ? Pastinya! Awalnya aku tertawa-tawa waktu di Medan, karena ada beberapa adegan lucu yang buat aku berfikir kejadian ini sepertinya akan mudah. Nyatanya, sewaktu lagu "Ayah Dengarkanlah" diputar, ditambah nada sumbang nan pilu tulangku menyanyikan lagu tersebut, membuat aku akhirnya meneteskan air mata. yah, He is the one of the best that i ever have. Apalagi setelah aku sadar ompung boru akan tinggal sendirian nantinya. Dan, ia juga harus berjuang sendiri demi dirinya sendiri dengan usianya yang sudah 69 tahun.
Ompung boruku ini kerjanya sebagai penjual makanan dan minuman ringan di Kebun Binatang Medan. Dulu waktu akau SD dan SMP, aku sering menemaninya berjualan pada saat hari besar. Tapi sekarang sulit rasanya membayangkan dia harus berkeliling menawarkan kacang rebus dan air mineral pada pengunjung kebun binatang. Apalagi ompung baru operasi mata yang katarak.
Kembali ke pemakaman, sedih rasanya waktu melihat mayat ompung untuk yang terakhir kalinya sebelum peti mati ditutup. Sedih juga waktu melemparkan tanah  ke atas peti mati yang akan dikubur. Mskipun jarang bersama, ada beberapa kenganan sederhana yang secara tidak sengaja berputar ulang di memori. Harusnya, kita wajib melupakan orang yang telah meninggal, karena tidak ada gunanya lagi mengingat-ingat orang yang telah pergi tersebut. Kenyataannya, susah.
Hari Senin itu, aku kurang semangat menjalain hari di Asrama. Yang ada hanya lemas, dan kemudian teringat akan kejadian-kejadian yang kemarin. Aku sudah berusaha untuk menyibukan diri dengan belajar untuk quiz Biologi besok atau mengobrol dengan teman-temanku. Tapi, belajar jadi tidok fokus, dan saat mengobrol dengan teman malah lebih sering melamun.
Hal yang kurenungkan, hidup ini ternyata sangat singkat. Ini yang pertama kalinya aku menyaksikan pemakaman salah satu anggota keluargaku dan aku masih punya 3 ompung lagi. Takutnya, aku mungkin akan kurang siap. Aneh rasanya mengingat orang yang telah pergi, kemudian kau menemukannya terbujur kaku didepanmu. Tidak bisa melakukan apa-apa!
Satu-satunya jalan, aku harus berdoa pada Tuhan.Temanku, Dora pernah mengatakan ini padaku."Ompungku tinggal 2 dan semoga sepuluh tahun lagi mereka berdua masih hidup. Karena di saat itu akau sudah menikah dan bekerja, dan aku akan memberikan sedikit kebaikan buat mereka. Adam dan Hawa serta tokoh-tokoh Alkitab yang lainnya saja Tuhan kasih beratus-ratus tahun  sama mereka. Masak, aku hanya minta sepuluh tahun, Tuhan tidak kasih?"Itu juga yang menjadi motivasiku untuk berdoa pada Tuhan, dan belajar sebaik-baiknya. Aku juga menginginkan hal yang sama, dan sepuluh tahun lagi kupastikan aku dapat memberikan kebaikan itu.
Mereka, ompung-ompungku itu pastinya akan meninggal. Tapi setidaknya, aku dapat membalas kebaikan-kebaikan mereka padaku sebelum Tuhan mengambil mereka dariku.

By Hans Hutasoit
XXII

Creation fr XXIII

 Etenier

3 months we are together to quarantine
3 years we are together in this dorm
3 months ago we will celebrate one year in this dorm
3 word of motto simula amplectimus futuro
3 word for us : we are one

By : Patresia Sitanggang


Fly

Flying high over the atmosphere
Feel the breeze of the blowing wind
Trying to touching the cloud
Flying, observed this beautiful world from this magnificient

By : Yacob Simanjuntak

-----

The white paper not forever whitw
will be fill by ink
it is a piece of cake, something to do
i will do it with gratefull heart

By : ---

Puisi- Janji by Raymondo S.


JANJI

Untaian kata
Dari bibir termanis
Dalam syarat apapun

Bertaburan
Dengan hati teguh
Bersama dengan keraguan terdalam

Dua kata
Yang menjanjikan
Seakan seperti
Sekeras intan, namun akankah
Seperti batu karang yang rapuh?

Dua kata
Yang ternantikan
Seakan seperti
Buah jatuh dari dahannya, namun apakah berakhir
Seperti mayat dalam kuburan?

Dua kata
Yang untuk dinikmati
Seakan seperti
Madu dari sarangnya, namun apakah akan berakhir
Seperti sebuah apel merah negeri Putri Salju?



Dua kata
Yang terindah
Seakan seperti
Negeri  berlian yang terindah, namun  apakah malahan  berakhir,
Seperti negeri berlian yang dijatuhi meteor?

Aku,
Kamu,
Kita,
Hanya punya satu pilihan
Yang tak terelakkan, sesudah
Bibir berlumuran ludah..

Created by :  Raymondo Sitanggang
Books and  Writing Club
XXII Generation