Aku kembali dari Medan Senin siang,
tepatnya pada pukul satu. Kata teman-teman sih, aku terlalu cepat pulang
ke Asrama. Aku pikir juga demikian. Rencananya aku akan keliling-keliling dulu
di Balige. Tapi tidak semangat ! Akhirnya aku langsung pulang.
Ada beberapa fakta yang aku baru tahu
kebenarannya setelah menghadiri acara pemakaman ompungku. Yang pertama,
ompungku meninggal pada Kamis malam, bukan Jumat pagi. Karena mamak baru
mengabariku Jumat siang, kupikir bahwa ompung meninggal pada Jumat pagi. Kedua,
ompung itu umurnya 71 tahun. Dan yang terakhir, namanya itu sebenarnya
Hadarian, bukan Hardi, Hadrian, Hadirian, juga lainnya.
Sedih ? Pastinya! Awalnya aku tertawa-tawa waktu
di Medan, karena ada beberapa adegan lucu yang buat aku berfikir kejadian ini
sepertinya akan mudah. Nyatanya, sewaktu lagu "Ayah Dengarkanlah"
diputar, ditambah nada sumbang nan pilu tulangku menyanyikan lagu tersebut,
membuat aku akhirnya meneteskan air mata. yah, He is the one of the best
that i ever have. Apalagi setelah aku sadar ompung boru akan tinggal
sendirian nantinya. Dan, ia juga harus berjuang sendiri demi dirinya sendiri
dengan usianya yang sudah 69 tahun.
Ompung boruku ini kerjanya sebagai penjual
makanan dan minuman ringan di Kebun Binatang Medan. Dulu waktu akau SD dan SMP,
aku sering menemaninya berjualan pada saat hari besar. Tapi sekarang sulit
rasanya membayangkan dia harus berkeliling menawarkan kacang rebus dan air
mineral pada pengunjung kebun binatang. Apalagi ompung baru operasi mata yang
katarak.
Kembali ke pemakaman, sedih rasanya waktu melihat
mayat ompung untuk yang terakhir kalinya sebelum peti mati ditutup. Sedih juga
waktu melemparkan tanah ke atas peti mati yang akan dikubur. Mskipun
jarang bersama, ada beberapa kenganan sederhana yang secara tidak sengaja
berputar ulang di memori. Harusnya, kita wajib melupakan orang yang telah
meninggal, karena tidak ada gunanya lagi mengingat-ingat orang yang telah pergi
tersebut. Kenyataannya, susah.
Hari Senin itu, aku kurang semangat menjalain
hari di Asrama. Yang ada hanya lemas, dan kemudian teringat akan
kejadian-kejadian yang kemarin. Aku sudah berusaha untuk menyibukan diri dengan
belajar untuk quiz Biologi besok atau mengobrol dengan teman-temanku. Tapi,
belajar jadi tidok fokus, dan saat mengobrol dengan teman malah lebih sering
melamun.
Hal yang kurenungkan, hidup ini ternyata sangat
singkat. Ini yang pertama kalinya aku menyaksikan pemakaman salah satu anggota
keluargaku dan aku masih punya 3 ompung lagi. Takutnya, aku mungkin akan kurang
siap. Aneh rasanya mengingat orang yang telah pergi, kemudian kau menemukannya
terbujur kaku didepanmu. Tidak bisa melakukan apa-apa!
Satu-satunya jalan, aku harus berdoa pada
Tuhan.Temanku, Dora pernah mengatakan ini padaku."Ompungku tinggal 2 dan
semoga sepuluh tahun lagi mereka berdua masih hidup. Karena di saat itu akau
sudah menikah dan bekerja, dan aku akan memberikan sedikit kebaikan buat
mereka. Adam dan Hawa serta tokoh-tokoh Alkitab yang lainnya saja Tuhan kasih
beratus-ratus tahun sama mereka. Masak, aku hanya minta sepuluh
tahun, Tuhan tidak kasih?"Itu juga yang menjadi motivasiku untuk berdoa
pada Tuhan, dan belajar sebaik-baiknya. Aku juga menginginkan hal yang sama,
dan sepuluh tahun lagi kupastikan aku dapat memberikan kebaikan itu.
Mereka, ompung-ompungku itu pastinya akan
meninggal. Tapi setidaknya, aku dapat membalas kebaikan-kebaikan mereka padaku
sebelum Tuhan mengambil mereka dariku.
By Hans Hutasoit
XXII
Tidak ada komentar:
Posting Komentar