Selasa, 30 April 2013

Ompung

Aku  kembali dari Medan Senin siang, tepatnya pada pukul satu. Kata teman-teman sih, aku terlalu cepat pulang ke Asrama. Aku pikir juga demikian. Rencananya aku akan keliling-keliling dulu di Balige. Tapi tidak semangat ! Akhirnya aku langsung pulang.
Ada beberapa fakta yang aku baru tahu kebenarannya setelah menghadiri acara pemakaman ompungku. Yang pertama, ompungku meninggal pada Kamis malam, bukan Jumat pagi. Karena mamak baru mengabariku Jumat siang, kupikir bahwa ompung meninggal pada Jumat pagi. Kedua, ompung itu umurnya 71 tahun. Dan yang terakhir, namanya itu sebenarnya Hadarian, bukan Hardi, Hadrian, Hadirian, juga lainnya.
Sedih ? Pastinya! Awalnya aku tertawa-tawa waktu di Medan, karena ada beberapa adegan lucu yang buat aku berfikir kejadian ini sepertinya akan mudah. Nyatanya, sewaktu lagu "Ayah Dengarkanlah" diputar, ditambah nada sumbang nan pilu tulangku menyanyikan lagu tersebut, membuat aku akhirnya meneteskan air mata. yah, He is the one of the best that i ever have. Apalagi setelah aku sadar ompung boru akan tinggal sendirian nantinya. Dan, ia juga harus berjuang sendiri demi dirinya sendiri dengan usianya yang sudah 69 tahun.
Ompung boruku ini kerjanya sebagai penjual makanan dan minuman ringan di Kebun Binatang Medan. Dulu waktu akau SD dan SMP, aku sering menemaninya berjualan pada saat hari besar. Tapi sekarang sulit rasanya membayangkan dia harus berkeliling menawarkan kacang rebus dan air mineral pada pengunjung kebun binatang. Apalagi ompung baru operasi mata yang katarak.
Kembali ke pemakaman, sedih rasanya waktu melihat mayat ompung untuk yang terakhir kalinya sebelum peti mati ditutup. Sedih juga waktu melemparkan tanah  ke atas peti mati yang akan dikubur. Mskipun jarang bersama, ada beberapa kenganan sederhana yang secara tidak sengaja berputar ulang di memori. Harusnya, kita wajib melupakan orang yang telah meninggal, karena tidak ada gunanya lagi mengingat-ingat orang yang telah pergi tersebut. Kenyataannya, susah.
Hari Senin itu, aku kurang semangat menjalain hari di Asrama. Yang ada hanya lemas, dan kemudian teringat akan kejadian-kejadian yang kemarin. Aku sudah berusaha untuk menyibukan diri dengan belajar untuk quiz Biologi besok atau mengobrol dengan teman-temanku. Tapi, belajar jadi tidok fokus, dan saat mengobrol dengan teman malah lebih sering melamun.
Hal yang kurenungkan, hidup ini ternyata sangat singkat. Ini yang pertama kalinya aku menyaksikan pemakaman salah satu anggota keluargaku dan aku masih punya 3 ompung lagi. Takutnya, aku mungkin akan kurang siap. Aneh rasanya mengingat orang yang telah pergi, kemudian kau menemukannya terbujur kaku didepanmu. Tidak bisa melakukan apa-apa!
Satu-satunya jalan, aku harus berdoa pada Tuhan.Temanku, Dora pernah mengatakan ini padaku."Ompungku tinggal 2 dan semoga sepuluh tahun lagi mereka berdua masih hidup. Karena di saat itu akau sudah menikah dan bekerja, dan aku akan memberikan sedikit kebaikan buat mereka. Adam dan Hawa serta tokoh-tokoh Alkitab yang lainnya saja Tuhan kasih beratus-ratus tahun  sama mereka. Masak, aku hanya minta sepuluh tahun, Tuhan tidak kasih?"Itu juga yang menjadi motivasiku untuk berdoa pada Tuhan, dan belajar sebaik-baiknya. Aku juga menginginkan hal yang sama, dan sepuluh tahun lagi kupastikan aku dapat memberikan kebaikan itu.
Mereka, ompung-ompungku itu pastinya akan meninggal. Tapi setidaknya, aku dapat membalas kebaikan-kebaikan mereka padaku sebelum Tuhan mengambil mereka dariku.

By Hans Hutasoit
XXII

Tidak ada komentar:

Posting Komentar